Cari Judul

Sabtu, 19 April 2025

Together (Jeno, Eric)(free)

Jeno dan Eric adalah sepasang anak kembar laki-laki yang tinggal di sebuah kompleks kecil di pinggiran kota. Mereka berdua selalu terlihat bersama-sama, ke mana pun pergi, seperti bayangan yang tak pernah bisa dipisahkan. Dari kecil, mereka memang dibesarkan dengan cara yang hampir persis sama. Pakaian selalu seragam, sepatu selalu sepasang, dan jika satu jatuh sakit, satunya pasti ikut-ikutan pura-pura sakit supaya bisa istirahat bareng.


Orang-orang sekitar sering menyamakan mereka dengan—Upin dan Ipin versi lokal, tapi sedikit lebih rusuh dan lebih banyak akalnya.


Hari itu, cuaca sedang panas. Matahari menggantung malas di langit tanpa awan, membuat udara dalam rumah jadi sumuk meski kipas angin diputar dengan kecepatan penuh.


Jeno sedang duduk di lantai dengan posisi rebahan separuh badan, menggulir video dengan muka serius. Di sebelahnya, Eric sibuk ngupas mangga muda sambil mencocol ke sambal garam, sesekali mendesis karena keasaman yang menusuk lidah.


"AHHH AHH AHH"


“eh nonton bokep ya"


Eric mendekat. Di layar terlihat seorang remaja lelaki, mungkin anak SMA, sedang berdiri di depan kamera sambil memperlihatkan penisnya yang mulus dan bersih.


“Gila. Kontolnya gagah bener, bersih kayak ubin kamar mandi baru dipel,” gumam Eric.


“kalo lo liat punya gue.. kayak semak liar belum pernah dipangkas.”


Jeno tertawa, tapi kemudian reflek melihat punyanya. Tak jauh berbeda, lebat, dan sedikit menyeramkan jika dilihat dari sudut tertentu. Pasti baunya nyengat.


“Apa kita... perlu cukur juga?” tanya Eric dengan suara ragu.


Jeno menatap serius. "Benar sih. kalau bulunya lebat gitu, nanti bau.”


“Ada benarnya sih…” Eric mengangguk-angguk. “Tapi lo mau cukur sendiri?”


“Ya enggak, lah. Kita saling bantu, kayak biasa.”


Dan begitulah. Keputusan sudah bulat. Mereka akan mencukur bulu jembut mereka masing-masing—bergantian, di kamar, secara diam-diam, tanpa sepengetahuan siapa pun di rumah.


Mereka menunggu sampai sore, saat ibu sedang sibuk di dapur dan kakak mereka. Jeno masuk kamar lebih dulu dan mulai menyiapkan alat-alat yang ia anggap penting: alat cukur lama punya ayah yang mereka temukan di laci, mangkuk berisi air hangat, dan handuk kecil untuk menyeka.


Eric masuk belakangan dengan ekspresi tegang. “Gue dulu ya,” kata Jeno.


“Serius lo?” tanya Eric. “Berani amat.” Jeno hanya mengangguk. Ia membuka celananya, mengangkat kaosnya, dan berbaring di atas karpet sambil menatap langit-langit kamar.


Eric duduk bersila di sampingnya, mengambil alat cukur, dan mulai mendekatkan alatnya ke permukaan jembut Jeno yang berbulu lebat. “Satu… dua…”


Baru saja Eric menyentuhkan alat itu ke kulit Jeno, jeritan langsung meledak.


“AHH! PANAS GOBLOK!”


Eric kaget, hampir menjatuhkan alat cukur. “Baru gue sentuh, woy!”


“Ya tapi itu rasanya kayak disundut rokok! Beneran! Anj... sialan, sakit banget!”


“Jangan cabul, anjir. Ntar lo dosa,” kata Eric, tapi wajahnya menahan tawa.


“Dosa lebih baik daripada kontol lecet!”


Eric mencoba lagi. Perlahan, ia menyeret alat cukur dengan tekanan paling lembut yang bisa ia berikan. Ia tekan tekan kontol jeno sambil melemparnya kanan kiri bergantian mencari jembut jeno.


Meski penuh jeritan dan umpatan yang keluar spontan dari mulut Jeno, sesi cukur itu akhirnya selesai juga. Walau tidak sepenuhnya rapi—karena Eric lebih banyak tertawa daripada fokus—setidaknya bersih.



Kini giliran Eric.



“Lo harus hati-hati ya,” kata Eric sambil membuka kaus. “Kulit gue sensitif. Awas kena kontol gua. Sekali lecet bisa jadi bahan gosip.”


Eric sudah berbaring, tangan terangkat. Jeno mengambil alat cukur dengan penuh semangat balas dendam. Baru sekali sentuh, Eric sudah memperingatkannya lagi.


“IYA IYA TENANG! Gak akan kena kontol lo anjing?!”


“gak bakal sakit kan”


“Mungkin nggak sakit. Tapi geli... atau panas... atau dua-duanya.”


Dengan hati-hati, Jeno menempelkan kepala mesin ke bagian V eric. Baru satu garis dicukur, Eric langsung menggeliat.


Jeno tertawa sambil tetap lanjut menyayat pelan, kadang terlalu pelan, kadang terlalu cepat. Eric hanya bisa menggeliat di lantai sambil meracau hal-hal aneh yang bahkan dirinya sendiri tak mengerti.


“Lo nyukur atau nyiksa, Jen?!”


“Enggak, ini alat cukur. Jembut lo keras kayak sabut kelapa,” jawab Jeno serius.


“ANJIG! Tahan! Tahan! Jadi berdiri kontol lo!”


Jeno kesulitan menahan tawa, apalagi ketika Eric mulai mengoceh kata-kata aneh setiap kali benda itu menyentuh batang kontolnya memberikan efek getar padanya. Kadang refleks, kadang cuma karena panik.


“UH! Itu... itu titik sensitif gue woy! Jangan ke situ!”


Jeno pura-pura nggak dengar. Mesin terus menggerus bulu-bulu yang tumbuh lebat seperti hutan tropis mini. Tiap goresan bikin Eric menjerit atau mengeluarkan kata-kata spontan yang membuat kontol eric makin berdiri


kontol mereka kini mulus—meskipun tidak rata. Ada bagian yang kelewat dicukur, ada juga yang seperti dicukur dua kali karena terlalu panas. Tapi mereka puas.


“Lo tau gak…” kata Eric, menatap kontolnya. “Gue ngerasa... lebih ringan.” Ia dengan pelan mengocok kontolnya naik turun.. masih belum turn off


“Mau gua bantuin gak..”


“Yaudah sini… Yang benar ya kocoknya jangan remas kayak kemarin”


Saudara kembarnya itu sudah menjangkau penisnya dan meremas kuat, memberikan rangsangan yang mampu getarkan birahinya.


"Ahh! JENN— Baru dibilangin"


Sang pemilik nama tentu tidak menyahut, lebih memilih untuk berfokus pada penis yang sudah menegang di dalam genggaman tangannya. Ia terus melakukan gerakan memompa pada penis itu hingga cairan ejakulasinya perlahan keluar. Dikira sudah cukup, tanpa aba-aba Ia masukkan penis Eric ke dalam mulutnya. Mengulum penis itu dengan sangat lihai. Buat eric kewalahan


"Nghh! Ahh! Kuluman loohhh enakhh jennhh”


Jeno bisa merasakan kontol Eric yang semakin basah karena precum yang telah mengalir keluar. Disaat ia rasa sudah cukup, ia menarik dirinya. Menghasilkan erangan kecewa dari Eric yang sudah dekat dengan klimaksnya. Jeno dengan mudah mengubah Eric berbaring di atas kasur.


"L-Lebih kuat hisaphnya, AHHH.." desahnya, Jeno menjilat kulit Eric yang sedikit berbulu itu. Ia bergerak ke atas, mengisap kulit tepat di atas ketiaknya, memastikan untuk meninggalkan bekas ciuman.Jeno membungkuk lagi menggengam penis Eric sambil menjilati ketiak kirinya lagi, meninggalkan Eric yang merintih dan mengerang. Eric menundukkan kepalanya, tahu bahwa ia bisa mencapai klimaks kapan saja. Erangannya semakin keras saat ia hampir mencapai klimaks.


“Ahh!” Eric tersentak saat ibu jari Jeno mengusap ujung penisnya yang sudah basah.


“Ah! Ngghh …” Eric makin menggeliat gak karuan waktu ibu jari Jeno yang satunya mengusap putingnya pelan.


“Lebih suka gue pakai tangan apa mulut?”


”Du…dua-duanya Jenhh…” Jeno masih menjilat bagian atasnya.


”Oh rakus ya. Gue gosok sambil hisap ya…” Tangan Jeno bergerak makin cepat mengikuti gerakan mulutnya sendiri. Rasanya tak lama lagi Eric akan meledak.


“Fuck! Jenhh… lo bikin gua gila!” Jeno terdengar makin mempercepat kulumannya.


"Jenh-Gua muncrattt!" Mata Eric melotot muncrat di tangan Jeno di detik-detik terakhir Jeno mengulumnya. Sperma sperma terbang ke angkasa kamar mereka. Eric masih terbaring menunggu sisa-sisa gelombang tadi hilang. Dengan kesadaran yang belum penuh dia menggumam pelan


“Anjingg LOHHH… lain kali jangan siksa gua…”


“Tapi lo keenakan kan” Tak bisa membantah perkataan Jeno, ia ada benarnya.



Kedua tungkai Jeno membuka—mengangkang. “Sini bantuan jilatin lubang gua”



Tangan Eric yang kali ini melebarkan pipi bokong Jeno dan membenamkan wajahnya disana. Menjilat dan menghisap—seolah lubang Jeno merupakan vagina. Suara decakan basah terus terdengar memenuhi ruangan, diikuti dengan suara desahan Jeno yang terus keluar tanpa tahu malu.


“Enak nggak, Jen gua jilatinnya?” tanya Eric, sengaja. Satu tangannya kini turun untuk ikut memompa penis Jeno.


“Aahh enak.” balas Jeno disela desahannya.


“Mau crot, Jen?” Hanya dibalas dengan anggukan, lalu Eric menunduk. Berbisik tepat di telinga sang surai hitam


“Keluarin aja coba tanpa gua sentuh”


Liang Jeno mengetat lantaran ia sudah dekat dengan klimaksnya—sedari tadi pening dengan hidung Eric yang sibuk menggesek analnya. Sialan. Hanya dengan begitu Jeno klimaks begitu saja. Tanpa penisnya disentuh sedikitpun. Memuntahkan putihnya pada perutnya yang dijilat langsng oleh lidah eric


“Fuck Lo Ric”


Tiba-tiba, terdengar suara dari arah dapur. “Jeno! Eric! Ke sini sekarang! Cepet!”


Mereka saling pandang, mata membesar. Itu suara ibunya. Dan itu nada "jangan coba-coba santai".


Dengan jantung berdebar memakai pakaian mereka kembali, menyeka keringat masing masing sambil mereka melangkah ke dapur. Ibu berdiri di sana, tangan bersedekap, alis naik satu.


“Kalian tadi ngapain di kamar rame-rame, hah?”


Jeno mencoba tersenyum. “Eee... eksperimen ilmiah, Bu.”


Eric menimpali, “Iya, kita mau lihat apakah kalau dicukur, kontol bisa memantulkan cahaya.”


Ibu terdiam. Lalu menghela napas panjang.


“Kalian ini aneh banget. Tapi itu juga bersih bersih badan sih. Ya udah, bantuin Ibu cuci piring"


Mereka berdua langsung nyengir kecut, tapi tak melawan. Dengan ketiak mulus dan jiwa penuh kenangan, si kembar menuju wastafel


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments

Instruksi Cara Beli PDF

  1. 1. Masuk ke Trakteer: Klik di sini, lalu bayar sesuai harga PDF.
  2. 2. Pesan dukungan harus ditulis dengan format: email dan judul PDF.
  3. Contoh: 123abc@gmail.com JUDUL PDF

  4. 3. Tunggu hingga pesanan Anda di ACC.

Catatan: Jika pembelian dilakukan antara jam 23:00 - 06:00 (jam rehat), ACC akan diproses setelah jam tersebut.

Jika masih bingung kontak dibawah ini

kontak @69696ustory